Petuah leluhur Bugis, Ketika Pesan leluhur tak lagi berbekas

Blogger Bugis - Petuah berarti pesan yang berisi, nasehata, peringatan dan pelajaran dari orang tua, orang bijak, dan orang alim. Dikalangan suku Bugis, petuah ini terdiri dari Pangaja, Paseng. Paseng berisi pesan-pesan yang melingkupi masa yang lalu, masa kekinian dan masa akan datang. Sedangkan Pangaja muncul setelah seseorang melanggar petuah atau melakukan perbuatan yang melanggar norma/aturan berlaku. Jadi nasihat atau pangaja bagian dari petuah. Namun keduanya tak dapat dipisahkan sehingga terangkum menjadi satu kesatuan dalam “petuah”. Berikut ini Admin blogger Bugis menyajikannya untuk Anda petuah Bugis yang kini mulai terlupakan :

Petuah leluhur Bugis

Petuah leluhur Bugis

To Matowatta Riolo iyarega To Mariolota (orang-orang terdahulu/leluhur) adalah orang-orang yang "tidak bersekolah" seperti kita pada hari ini yang sarjana, magister, bahkan sudah doktor. Tetapi mengapa orang tua kita tampaknya lebih baik, arif dan bijaksana?”

Mereka begitu kuat, Mereka sabar, Mereka tak pernah berkeluh kesah, Mereka selalu bersyukur, Mereka senantiasa berpikir positif, Sebab Mereka :

“Malempu” (Jujur)
“Teng mangoa” (tidak serakah)
"Teng mangempuru (Tidak iri)
“Magetteng” (tegas dalam kata, teguh dalam perbuatan)
“Mappasitinaja” (Yang ini pantas, yang itu tidak pantas saya lakukan)
“Matanre siri” (Malu jika melakukan hal-hal yang tidak patut)

Lempu namacca, Iyanaritu madeceng riparaddeki ri watakkale, Iyatonaritu temmassarang dewata Seuwae. Naiya riasengnge acca, Iyanaritu mitaengngi addimunrinna gaue.

Naiya nappogau engkapi madeceng napogaui. Narekko engkai maja, ajasi ja mupogaui rewei matti ja'na riko

(Jujur dan pandai, itulah yang senantiasa ada dalam diri yang tidak terpisah dengan apa yang diinginkan oleh-Nya. Orang yang pandai adalah yang memperhitungkan akibat yang akan terjadi dari suatu perbuatan. Maka hanya yang baik yang kau lakukan. Jika salah yang kau lakukan, maka akibatnya akan kembali kepada dirimu).

Pesan leluhur yang seharusnya takkan pernah pupus. Tetapi saat ini ia tak hanya sirna dalam tekstual tapi menghilang di dunia kontekstual. Peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa kita pada kehidupan yang tak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan sebagaimana yang telah diwariskan leluhur kita, padahal dunia mereka tak banyak disentuh dengan akademika ilmu pengetahuan.

Mengapa mereka “sukses” menjalani hidupnya?.


Hidup mereka “mabbarakka” (penuh berkah). Orang tua kita memiliki anak yang banyak, bisa sampai 7, 10 bahkan mungkin selusin…tapi mereka tetap sabar dan tak pernah mengeluh dengan keadaan. Tak pernah berpikir jalan pintas (shortcut) untuk mencapai sesuatu. Filosofi “nanre na pejje” (nasi dan garam) bukan hanya sebatas kata melainkan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya mereka “sukses” menjalani kehidupan yang sesungguhnya

tak ada apa-apanya” dibanding kehidupan hari ini yang serba “wah”.

“Iyami ri ala sappo, getteng lempu na ada tongeng (Jadikan keteguhan, kejujuran dan ucapan yang benar sebagai pagar kehidupan).

Na resopa teng mangingngi na malomo na letei pammase dewata (Usaha yang sungguh dan sabar adalah titian akan datangnya Rahmat Allah SWT).

Aja mu mangoa nasaba iyatu ngowae sapu ri pale cappa'na (Jangan serakah sebab ujung-ujungnya kau akan kehilangan segalanya).

Aja mungauwi tennia tane-tanemmu (Jangan mengambil sesuatu yang bukan bagianmu)

Demikian Petuah leluhur Bugis, Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Disarankan Untuk Anda:

0 Response to "Petuah leluhur Bugis, Ketika Pesan leluhur tak lagi berbekas"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel