All Share Artikel Terbaru Dan Terupdate serta memiliki nilai bermanfaat bagi pembacanya hanya di bloggersbugis.com

Asal Usul Gelar Andi Karaeng Pada Bangsawan Bugis Makassar

Blogger Bugis - Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis Makassar, Gelar Andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.

Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis Makassar

Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis. Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.

Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis Makassar

ASAL USUL GELAR ANDI


Andi ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.

Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading.

Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.

Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam Lontara tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae.

Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).

Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki.

Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.

Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda.

Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.

Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone

Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak.

Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).

Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut.

Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.

Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa.

Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul. Gelar “Andi” baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal.

Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi/Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan/penjajahan.

Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama alias/gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama kampung/kondisi/perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.

Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, ‘asal usul’ dan ‘namanya’ kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan kalula/arung/matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan kalula/arung yang selanjutnya menjadi penguasa/raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah kerajaan/negara telah terbentuk –dimana tanah/wilayah, pemimpin/penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.

Penguasa/Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung/To Tompo [jika dia 'ada'/muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka.

FATIMAH BANRI WE BANRI GAU 1871 – 1895
We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa. Yang menjadi tanda tanya adalah :

Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama/gelar itu sebelumnya? Mengapa kata ‘Andi’ yg digunakan/disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?

Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki, Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu :

Apabila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu : Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?

Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur. Apabila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan

Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.
Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggris sulit menyebut huruf “R”.

Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung Wanua, Limpo yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara otomatis masyarakat luar melekatkan nama Andi didepannya.menajdi Andi Nu sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki.

Dari beberapa uraian yang dipaparkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar “Andi” bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.sumber : kampungbugis

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Asal Usul Gelar Andi Karaeng Pada Bangsawan Bugis Makassar

loading...

28 komentar:

  1. Andik dan Karaeng menurut saya pribadi adalah sebuah panggilan atau sapaan dari seseorang yang berhati tulus terhadap orang lain yang dianggapnya memang pantas menerimanya baik itu sudah dikenal dengan baik maupun not yet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali Pak Rahman, Gelar karaeng itu tidak didapatkan dengan menempuh Pendidikan Seperti Gelar gelar lainya melainkan gelar Bangsawan itu didapatkan dari turunnan dari bangsa yang berhati tulus, Menyandang Gelar bangsawan bukanlah hal yang patut dibanggakan melainkan bagaimana cara kita bertigkah laku serta bertutur kata menerapkan gelar karaeng dengan sesungguhnya

      Hapus
    2. saya mau bertanya,bapa saya namanya andi tendri lifu sedang ibu saya hanya dari gorontalo apakah saya masi bisa di andikan kah?

      Hapus
  2. Menarik ulasannya, dan dari bebrapa sumber... saya mau menanyakan, kalau ejaan andi hanya mengacu pada kata andri, kemudian dikrenakan lidah di luar Sulawesi Selatan sulit menyebutnya..maka menjadilah andi sebagai gelaran...pertanyaannya...di dalam dialek2 di Sulawesi selatan pun, penyebutan kata "adik" dengan kata "andi" banyak digunakan..umunya diluar pengguna bahasa Bugis (Ogi')..seperti rumpun Bahasa Massenrempulu', Makassar...tabe'...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan tetapi mengapa sampai saat ini penyebutan kata "adik" masih di gunakan. Mohon bedakan "andi" dan kata adik, kata Adik jika di terjemahkan kedalam bahasa bugis Artinya Anr'i, Ndi, Andik', bukan Andi. Tabeee Mariki di ....

      Hapus
  3. orang tua perempuan saya memiliki orang tua laki2 (kakek dr saya) yg berasal dr palopo larompong dan memiliki gelar Andi, karena org tua laki2 nya (kakek dr ibu saya) berasal dr daerah yg sama, dan bernama Andi Sala Tose.. dan kemudian gelar Andi turun kpd anak2nya.. sehingga org tua perempuan saya memakai nama depan Andi (Andi Hernelmy Padang Mani) tp sayang nya nama Andi itu hanya cukup sampai di anak perempuan saja, knp anak perempuan tdk dpt menurunkan gelar Andi kpd anak2 nya? :(

    dan sayang nya kami sekeluarga besar sdh putus komunikasi dgn keluarga besar dsna.. skg kami tinggal di padang mulai dr kakek saya, anak2 nya dan kemudian cucu2 nya yaitu saya.. pingin rasa nya menginjakan kaki k tanah leluhur kakek saya :( tapi apa boleh buat, hanya bisa merasakan sedikit kebanggaan krn memiliki darah keturunan Andi mskipun tdk menempel dinama dpn saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih atas komentarnya terkait dengan pertanyaan Anda kenapa anak perempuan tdk dpt menurunkan gelar Andi kpd anak2 nya? Alasanya karena Ahli waris tertinggi dalam suku bugis makassar adalah kaum laki makanya jika Seorang Perempuan bergelar Andi Menikah dengan orang yang bukan Andi maka Gelar Andi tidak dapat di turunkan kepada Anaknya. Saya rasa Anda sudah memiliki sifat seperti Andi, sebenarnya gelar Andi tidaklah untuk di banggakan Akan tetapi bagaimana cara kita menerapkan dalam kehidupan sehari2, Ditunggu Kunjungannya ke tanah bugis Jangan lupa contact saya He he he..

      Hapus
  4. Tabe'....Menarik untuk disimak, namun terkadang di zaman sekarang banyak orang tua yg memberikan nama depan anaknya Andi pdhal yg bergelar Andi hanya Ibunya saja. Entah ini untuk membanggakan atau apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjugan dan komentarnya. sebenarnya hal demikian tidak sah, karena terkecuali sang bapak yang Andi dan sang Ibu Bukan Andi maka anaknya berhak mendapat turunan gelar Andi, Tapi jika hanya Ibunya saja hal demikian tidak wajar, Memang ada beberapa orang yang melakukan hal demikian, mungkin karena ingin membanggakan atau hendak dikata, Karaeng yang demikian bukanlah karaeng sejati tapi karaeng (Andi) cipolo polo (andi sepotong). dan hal demikian tidak diakui gelarnya.

      Hapus
  5. Terima kasih ulasannya tentang gelar Andi. Kebetulan saya seorang Andi dari garis keturunan Toappatunru Matinroe Ri Lalengbatana Bone. Karena saya dari kecil hidup di Jawa, jadi saya kurang mengerti asal usul gelar Andi tersebut. Namun saya memang pernah mendengar kalau gelar Andi ini muncul sebelum Andi Bau Mappanyukki.Cuma entah mengenai kebenarannya.

    Kalau bagi saya pribadi sebenarnya gelar Andi sekarang ini bisa dipakai juga sebagai tanda untuk saling mengenal antara saudara. Hanya saja yang mengecewakan, banyak sekali sekarang yang mengaku-ngaku keturunan Arung / Andi padahal mungkin Ayah atau bahkan Kakeknya bukan bergelar Andi. Apalagi yang sudah punya jabatan tinggi di daerah Sulawesi atau di Indonesia. Seenaknya sendiri mereka menggelari dirinya Andi. Setau saya dulu juga ada juga menteri dari kabinet SBY yang memberikan gelar Andi pada dirinya sendiri. Menyedihkan.

    Saya ada data silsilah raja-raja Bone dari Raja Bone I sampai dengan Raja Bone XXXIV. Kalau owner blog mau pasang di blog ini. Karena saya rasa cocok dengan alamat blognya. :) Kontak saya aja kalo minat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. deng saya butuh silsilah kerjaan bugis bone dari raja I sampai XXXIV istri saya asli dari bugis bone...saya butuh informasi biar bisa lebih memahami silsilah.

      Hapus
    2. tabek deng saya butuh informasi silsilah keluarga bugis bone dari raja I sampai raja XXXIV... istri saya asli bugis bone mohon di informasikan karena biar lebih memahami keluarga istri.

      Hapus
    3. silahkan buka pada kitab lontara

      Hapus
  6. SOMBA RI GOWA,,,MANGKAU RI BONE,,,,DATU/PAJUNG RI LUWU,,,MATTASAK RI TORAYA......CUKUP BAGI SAYA BAHWA MEREKA ADA HUBUNGAN BAIK ITU KELUARGA,,,POLITIK ATAU APALAH NAMANYA....SAWERIGADING MEMAKAI GELAR OPU....PERTANYAAN SAYA APAKAH KERAJAAN-2 DI SULAWESI SELATAN MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGAN KEDATUAN LUWU ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jelas mempunyai hubungan erat karena mereka itu satu rumpun

      Hapus
  7. hib kalo blh tau dpt sumber dari mana mengenai thread gelar ini?kok yg saya pelajari dr lontara beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini sumbernya dari lontara juga bro

      Hapus
  8. gan ane mau tanya nih
    kake ane kan pnya gelar Andi, ya mungkin gk setenar bangsawan lain nama kake ane Andi Attas trus nikah ni ma nenek gw dengan mas kawin tanah palopo berserta isinya. itu dari keluarga ibu saya trus dari keluarga ayah gak ada andi tapi beliau dari keturunan Kahar Muzakar. nah gw ma sodara gw gak pake gelar andi jg, tp sodara gw ngasi gelar andi ke anaknya "Andi Balawara" dan itu di lontara dibilang kalau garis keturunan biar 7 generasi tidak dipakai tetep bergelar

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang sah mendapat gelar andi jika sang ayah/bapak bergelar Andi maka keturunannya berhak mendapatkan gelar bangsawan bugis

      Hapus
  9. saya mempunyai gelar andi ,tapi saya belum pernah kekampuang halaman kakek saya,pada waktu kuliah saya kakek saya meninggal dunia ,dengan nama andi samela,dan ayah saya bernama andi saheri dan turun ke saya bernama andi Desriyanto .Ingin sekali saya ke kampung halaman saya tapi saya tidak kenal sama keluarga di sana karna saya sudah dibesarkan di jambi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau andi desriyanto ada masa sempatkanlah berkunjung ke sulsel, pasti akan ketemu dengan keluarganya, orang bugis orangnya ramah2 kok, anda akan di tuntun jika mencari jejak keluarga

      Hapus
  10. Iya. Tanyaki dulu ibuta atau bapatta sipa neneta tinggal dimana di Sul-sel. Baru pergi miki dikampung neneta pasti ada orang kampung yang tau. Orang kampung di Bugis baik sekali. pasti kita di layani seperti baik-baik.Jangan ki takut. Datang miki di kampung neneta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip benar sekali bro apa yang ki'katakan diatas, thanks sudah menambahkan

      Hapus
  11. ulasannya sangat bagus. bisa dijadikan tambahan referensi khususnya bagi kami org bugis. minta tolong, apa ada yg tau judul buku yg membahas tentang asal usul gelar bangsawan bugis yg lebih lengkap dan mendetail ?

    BalasHapus
  12. Saya keturunan Andi dari kakek saya : Andi Arsyad dari Palopo
    Saya mau tanya kalau ada silsilah Raja di tanah Palopo.
    Rencana nya saya akan berkunjung ke Palopo akhir tahun ini.

    Terima Kasih

    BalasHapus
  13. tabe maraja......jangan memahami akar sejarah secara parsial.jika enggkau tdk paham bertanyalah pd ahlinya.
    agar sekiranya tdk ada kekeruan dalam penafsiran sejarah

    BalasHapus
  14. Bos, sayang refrensinya masih kurang..Lihat raja bugis yang memakai Andi...Raja Suppa ( Ajetappareng - Pinrang ) 1926 - 1938 Andi Makkasau...Bukan Andi Mappanyukki yang pertama menggunakannya..berarti tidak benar kata Andi itu pemberian VOC.

    BalasHapus